top of page

Apakah Konsep Start Up Masih Relevan?: Pro and Cons!

Gambar penulis: Dianta Hasri
Dianta Hasri
7 Sep
6 menit membaca
Apakah Konsep Start Up Masih Relevan?: Pro and Cons!

Lima tahun lalu, kata startup punya bunyi tertentu. Ada kesan muda, cepat, dan sedikit heroik. Kalau kamu bilang sedang membangun startup, pertanyaan lanjutannya biasanya soal ide besarnya: masalah apa yang mau kamu selesaikan, siapa saja yang sudah bergabung, sejauh mana kamu mau bawa ini.

Sekarang pertanyaan pertamanya sering berubah. Sudah balik modal belum? Pendapatannya dari mana? Runway kamu masih berapa bulan?


Pergeseran kecil itu sebenarnya cerita besar. Yang berubah bukan cuma isi dompet investor, tetapi juga cara kita menilai sebuah usaha baru pantas dipuji atau tidak. Maka pertanyaan ini wajar muncul: konsep startup masih relevan, atau tinggal nostalgia dari era ketika uang gampang didapat?


Tulisan ini tidak akan ditutup dengan jawaban. Yang akan saya lakukan adalah menaruh dua sisi argumen sejelas mungkin, menawarkan satu sudut pandang yang jarang dipakai, lalu menyerahkan tiga pertanyaan yang jawabannya hanya kamu yang tahu.


Apa yang sebenarnya berubah dari konsep Start Up?

Ada tiga hal yang bergerak bersamaan, dan jarang dibahas sekaligus.


Pertama, harga uang. Selama hampir satu dekade, modal nyaris gratis. Dalam kondisi itu, investor rela membayar untuk cerita masa depan, karena tidak ada tempat lain yang menjanjikan imbal hasil sebesar itu. Ketika biaya modal naik, situasinya berbalik. Ada banyak alternatif yang lebih aman, dan sebuah ide di atas kertas harus bersaing melawan instrumen yang memberi imbal hasil tanpa drama.

Kedua, ketidakpastian ekonomi. Horizon perencanaan memendek, di kantor besar maupun di warung kecil. Perusahaan menahan belanja, konsumen menunda pembelian besar, dan semua orang menyimpan bantalan lebih tebal. Bagi bisnis baru, ini artinya siklus penjualan lebih panjang dan pembeli lebih rewel.

Ketiga, teknologi. Kecerdasan buatan mengubah dua hal sekaligus, yaitu biaya membangun produk dan sumber keunggulan. Yang pertama turun drastis. Yang kedua bergeser ke tempat yang tidak semua orang siap mengejarnya.


Tiga hal itu bisa dibaca sebagai lonceng kematian, bisa juga sebagai pembersihan. Mari lihat dua-duanya.


Alasan untuk ragu

1. Uangnya ada, pintunya lebih sempit. Modal tidak hilang dari pasar. Yang berubah adalah pola penyalurannya: cek yang lebih besar untuk lebih sedikit perusahaan. Yang paling terasa justru tahap paling awal, tempat dulu ide dan tim yang meyakinkan sudah cukup untuk mendapat tiket. Sekarang tiket itu sering baru keluar setelah ada bukti orang mau membayar, yang artinya kamu harus berhasil dulu sebelum dibantu.


2. Model bakar dulu, untung nanti sudah pensiun. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan pengguna dianggap bukti keberhasilan. Ternyata sebagian besar pertumbuhan itu dibeli dengan diskon, dan ikut hilang ketika diskonnya berhenti. Banyak pendiri belajar ini dengan cara mahal, dan investor belajar bersama mereka. Akibatnya, strategi yang dulu dipuji sebagai agresif sekarang dibaca sebagai ceroboh.


3. Kecepatan tidak lagi jadi keunggulan eksklusif. Dulu, senjata utama perusahaan kecil adalah bisa bergerak lebih cepat daripada pemain besar. Hari ini pemain besar juga punya alat yang sama. Kalau produkmu tipis, ia bisa ditiru dalam hitungan minggu, atau muncul gratis sebagai fitur tambahan di aplikasi yang sudah punya jutaan pengguna. Keunggulan enam bulan, yang dulu cukup untuk membangun benteng, sekarang tidak cukup untuk memasang pagar.


4. Jalan keluarnya menyempit. Seluruh logika pendanaan startup bertumpu pada adanya babak akhir, entah melantai di bursa atau dibeli perusahaan lain. Ketika babak akhir itu jarang terjadi dan waktu tunggunya makin panjang, seluruh rantainya ikut tegang. Pendiri bertahan lebih lama dengan porsi kepemilikan yang tergerus, dan karyawan yang dulu tergiur opsi saham mulai menghitung ulang.


5. Katanya sendiri jadi beban. Beberapa kasus angka yang digelembungkan membuat kata startup hari ini datang bersama alis yang naik sedikit. Di mata calon karyawan, mitra, bahkan orang tua, label itu tidak lagi otomatis berarti masa depan. Sebagian talenta terbaik memilih perusahaan mapan, bukan karena kehilangan ambisi, tetapi karena hitungan risikonya berubah.


Alasan untuk tetap percaya

1. Biaya mencoba belum pernah semurah ini. Yang dulu butuh tim tiga puluh orang dan dana ratusan juta, sekarang bisa diuji oleh empat orang dalam sebulan. Prototipe, riset pasar awal, materi pemasaran, bahkan sebagian layanan pelanggan, semuanya bisa dijalankan dengan ongkos yang dulu tidak masuk akal. Artinya taruhan untuk mencoba menjadi jauh lebih kecil, dan gagal tidak lagi harus berarti bangkrut.


2. Ketidakpastian ekonomi justru membuka celah. Ketika pemain besar sibuk bertahan, memangkas, dan menunda, ada ruang kosong di pasar yang tidak dijaga siapa pun. Perusahaan kecil bisa masuk ke situ tanpa harus berhadapan langsung dengan siapa-siapa. Sejarah cukup konsisten soal ini: banyak perusahaan yang sekarang kita anggap raksasa justru lahir di tahun-tahun yang dianggap paling buruk untuk memulai usaha.


3. Aturan mainnya kembali sederhana. Ada yang membayar, lalu ada yang membayar lagi bulan berikutnya. Sesederhana itu. Bagi pendiri yang serius, iklim seperti ini sebetulnya lebih sehat daripada era ketika valuasi bisa naik tanpa pelanggan. Perusahaan yang terpaksa disiplin sejak bulan pertama biasanya lebih tahan banting, karena tidak pernah membangun kebiasaan yang hanya bisa dibiayai oleh uang orang lain.


4. Distribusi tidak lagi butuh anggaran raksasa. Untuk sampai ke pelanggan pertama, kamu tidak perlu membeli tayangan iklan di televisi. Kamu perlu tahu di mana mereka berkumpul dan punya sesuatu yang layak dibicarakan. Ini bukan berarti gampang, karena perhatian orang makin mahal. Tetapi pintunya terbuka untuk siapa saja yang mau konsisten, dan itu situasi yang jauh lebih adil dibanding dua puluh tahun lalu.


5. Startup itu metode, bukan status. Inti dari konsep ini sebenarnya sederhana: menghadapi ketidakpastian dengan eksperimen kecil yang cepat dan murah, lalu menambah taruhan hanya pada yang terbukti jalan. Di ekonomi yang sulit diramal, metode itu bukan menjadi kurang relevan. Justru di situlah ia paling berguna, karena alternatifnya adalah menyusun rencana lima tahun untuk dunia yang berubah setiap kuartal.


Sudut pandang yang jarang dipakai

Perdebatan ini biasanya buntu karena dua kubu sedang membicarakan dua hal yang berbeda dengan satu kata yang sama.


Ada startup sebagai kelas aset: perusahaan yang dirancang untuk didanai, dinilai tinggi, lalu dijual atau melantai. Ukuran keberhasilannya adalah babak pendanaan berikutnya. Dan ada startup sebagai cara kerja: bisnis yang bergerak lewat eksperimen, iterasi, dan toleransi terhadap kesalahan kecil. Ukuran keberhasilannya adalah pelanggan yang kembali.


Yang sedang diuji zaman bukan konsep startup-nya. Yang sedang diuji adalah versi yang butuh investor untuk bisa bernapas.

Kalau dipisah begitu, gambarannya berubah. Bisa jadi perusahaan paling startup hari ini justru yang tidak pernah menyebut dirinya startup. Toko kopi yang menguji tiga menu baru setiap kuartal dan mencatat hasilnya. Agensi lima orang yang mengotomatisasi seluruh alur kerjanya sampai bisa melayani klien sepuluh kali lipat. Tim internal di perusahaan lama yang akhirnya diberi izin gagal kecil-kecilan. Mereka memakai metodenya tanpa memakai kostumnya. Sebaliknya, ada juga organisasi yang punya semua atribut startup, mulai dari dek presentasi yang rapi, kantor terbuka, sampai jabatan berbahasa Inggris yang panjang, tetapi tidak pernah benar-benar menguji apa pun. Yang seperti itu memang sudah kehabisan zaman, dan sebaiknya memang begitu.


Bagaimana kalau dua-duanya benar

Kemungkinan yang paling masuk akal bukan startup mati atau startup baik-baik saja, melainkan startup terbelah menjadi dua jalur yang makin berjauhan.


Jalur pertama adalah perusahaan padat modal. Kecerdasan buatan, energi, kesehatan, infrastruktur. Perusahaan-perusahaan ini butuh dana sangat besar sejak awal, dan justru di sanalah cek-cek raksasa itu mengalir. Jumlah pemainnya sedikit, taruhannya besar, dan tidak semua orang bisa ikut.


Jalur kedua adalah perusahaan yang sangat ramping. Tim kecil, biaya rendah, untung sejak dini, dan tidak pernah benar-benar butuh pendanaan besar. Mereka tumbuh pelan, tetapi dimiliki sepenuhnya oleh pendirinya. Sepuluh tahun lalu model ini dianggap kurang ambisius. Sekarang ia terlihat seperti kemewahan.

Yang paling terjepit adalah yang berada di tengah: cukup besar sehingga butuh modal luar untuk bergerak, tetapi tidak cukup istimewa untuk mendapatkannya. Dan celakanya, di situlah mayoritas startup selama ini berdiri.


Tiga pertanyaan, jawab sendiri

1. Kamu ingin membangun perusahaan, atau ingin mengumpulkan pendanaan? Dua-duanya sah, dan keduanya bisa berujung sukses. Tetapi strateginya berlawanan arah, dan banyak pendiri baru sadar mereka mengejar yang kedua setelah terlanjur mengorbankan yang pertama.


2. Kalau investor tidak pernah datang, bisnismu bertahan berapa lama? Jawaban tiga bulan dan jawaban selamanya, cuma tumbuhnya pelan, menghasilkan keputusan yang sama sekali berbeda soal siapa yang kamu rekrut, harga yang kamu pasang, dan seberapa cepat kamu perlu berlari.


3. Apa yang kamu punya dan tidak bisa disalin orang lain dalam enam bulan? Kalau jawabannya hanya kecepatan atau antarmuka yang rapi, teknologi hari ini sudah mengejarnya. Kalau jawabannya kepercayaan pelanggan, akses ke pemasok, izin yang sulit didapat, atau data yang tidak dimiliki siapa pun, posisimu jauh lebih kuat daripada yang kamu kira.


Jadi, relevan atau tidak?

Dua kalimat berikut sama-sama bisa dipertahankan.

Kalimat pertama: konsep startup sudah lewat masanya, dan yang tersisa sekarang hanyalah bisnis biasa dengan kosakata yang lebih keren.


Kalimat kedua: konsep startup baru saja mulai serius, setelah bertahun-tahun disamarkan oleh modal murah yang membuat siapa pun terlihat jenius.


Silakan pilih. Menariknya, pilihan kamu mungkin lebih banyak bercerita tentang versi startup mana yang selama ini kamu bayangkan, ketimbang tentang kondisi ekonominya sendiri. Dan mungkin itulah kesimpulan yang paling jujur yang bisa ditawarkan tulisan ini: pertanyaannya bukan apakah konsepnya masih hidup, melainkan bagian mana darinya yang layak kamu bawa.


Berpikir Terbalik


------


Artikel ini merupakan salah satu bagian dari ekslusif Rubrik Begawan yaitu BerpikirTerbalik.


Penulis

Dianta Hasri N. Barus

Penulis merupakan praktisi, pemikir di bidang pemasaran. Selama 17 tahun terakhir telah membantu banyak organisasi dan entitas bisnis dalam mengembangkan kapasitas pemasaran mereka. Beliau telah menghasilkan dua buah buku di bidang pemasaran, yaitu: Digital Marketing Black Box: Konsep Dasar, Strategi dan Implementasi, dan 33 Strategi Marketing Terpenting Dekade Ini.

Komentar


DH Insights mengambil frase Mengubah Perspektif, Mengubah Masa Depan sebagai tagline dari brand kami. Kami percaya dengan hal tersebut, dan bersama Anda mari kita ciptakan dunia yang lebih baik. Dengan mengubah perspektif, kita dapat membuka pintu menuju solusi yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masa depan

Mengubah Perspektif.

Mengubah Masa Depan

Happy Portrait.jpg
bottom of page