top of page

Omnichannel Atau Multichannel Marketing: Pemikiran Dari Sisi Konsumen Millenials

  • Gambar penulis: Dianta Hasri
    Dianta Hasri
  • 12 Okt 2024
  • 4 menit membaca

Omnichannel Atau Multichannel Marketing: Pemikiran Dari Sisi Konsumen Millenials_Dianta Hasri

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh bersama teknologi, saya sering kali bertanya-tanya tentang cara terbaik bagi perusahaan untuk berinteraksi dengan konsumen di era digital ini. Dua strategi pemasaran yang kini semakin populer adalah omnichannel dan multichannel marketing. Kedua pendekatan ini bertujuan untuk menjangkau konsumen melalui berbagai saluran (channel), tetapi dengan perbedaan mendasar dalam cara mereka terintegrasi. Di tengah kemajuan teknologi dan perubahan preferensi konsumen, perusahaan kini berlomba-lomba untuk memanfaatkan strategi yang paling efektif.


Omnichannel marketing menciptakan pengalaman konsumen yang mulus di berbagai platform, dari toko fisik hingga situs web, aplikasi seluler, media sosial, hingga layanan pelanggan. Di sisi lain, multichannel marketing menawarkan akses ke berbagai saluran komunikasi, tetapi tidak selalu terintegrasi. Dalam konteks saat ini, terutama dengan semakin dominannya konsumen milenial, saya merasa penting untuk memahami bagaimana kedua strategi ini sesuai dengan karakter dan perilaku mereka di Indonesia.


Konsumen milenial di Indonesia memiliki karakteristik yang unik. Mereka adalah generasi yang tidak hanya fasih teknologi, tetapi juga menuntut pengalaman yang cepat, mudah, dan personal. Mereka sering melakukan riset online sebelum membeli, membaca ulasan, membandingkan harga, dan bahkan berinteraksi dengan brand di media sosial sebelum mengambil keputusan. Milenial menghargai efisiensi dan kenyamanan, tetapi pada saat yang sama, mereka juga menginginkan pengalaman yang di-personalisasi.


Saya melihat bahwa omnichannel marketing menawarkan solusi yang lebih relevan bagi milenial. Dengan omnichannel, konsumen bisa memulai pengalaman belanja mereka di satu saluran dan melanjutkannya di saluran lain tanpa hambatan. Misalnya, seseorang bisa memeriksa produk di situs web, membelinya melalui aplikasi, dan memilih untuk mengambilnya di toko fisik. Pengalaman yang seamless ini sesuai dengan gaya hidup milenial yang dinamis dan fleksibel, di mana mereka menginginkan kontrol penuh atas proses pembelian.


Di sisi lain, multichannel marketing memberikan opsi lebih banyak bagi konsumen, tetapi tidak selalu terhubung dengan baik. Dalam strategi multichannel, brand menawarkan berbagai titik kontak—seperti email, media sosial, dan toko fisik—tetapi setiap saluran berdiri sendiri. Meskipun strategi ini menawarkan fleksibilitas, bagi saya, ini tidak cukup untuk memenuhi harapan milenial yang menginginkan pengalaman yang koheren dan konsisten di berbagai platform.


Ketika saya melihat perilaku belanja online milenial di Indonesia, jelas bahwa mereka menginginkan interaksi tanpa batas. Mereka tidak hanya berharap bisa memulai dan menyelesaikan transaksi di mana saja, tetapi juga ingin brand memahami preferensi dan perilaku mereka di setiap saluran. Hal ini yang membuat omnichannel lebih relevan. Sebuah brand yang mampu memanfaatkan data dari berbagai titik interaksi konsumen, baik online maupun offline, dapat memberikan pengalaman yang lebih personal dan efisien.


Namun, mengimplementasikan omnichannel marketing bukan tanpa tantangan. Saya melihat bahwa banyak perusahaan, terutama yang masih dalam fase pertumbuhan, kesulitan mengintegrasikan berbagai saluran dengan mulus. Dibutuhkan infrastruktur teknologi yang canggih dan manajemen data yang baik untuk menghubungkan setiap titik interaksi konsumen. Di Indonesia, banyak perusahaan ritel yang masih berjuang menggabungkan sistem toko fisik mereka dengan platform digital, sehingga mereka lebih sering menggunakan pendekatan multichannel yang lebih sederhana.


Contoh riil yang menunjukkan keberhasilan omnichannel adalah ritel seperti MAP (Mitra Adiperkasa), yang mengelola berbagai brand fashion dan gaya hidup. Mereka berhasil mengintegrasikan pengalaman belanja fisik dan online, dengan program loyalitas yang bisa diakses di semua platform, memungkinkan konsumen melacak pembelian dan mendapatkan reward dari mana pun mereka berbelanja. Sebaliknya, banyak perusahaan kecil yang masih menggunakan strategi multichannel, dengan situs web dan toko fisik yang terpisah, tanpa adanya konektivitas yang kuat.


Omnichannel Atau Multichannel Marketing: Pemikiran Dari Sisi Konsumen Millenials_Dianta Hasri

Salah satu kontradiksi yang saya amati adalah meskipun banyak brand mengakui pentingnya omnichannel, banyak yang masih terjebak dalam pendekatan multichannel karena keterbatasan sumber daya. Mereka ingin memberikan pengalaman konsumen yang terpadu, tetapi tanpa investasi yang tepat dalam teknologi, mereka hanya mampu menawarkan opsi yang terfragmentasi. Akibatnya, pengalaman konsumen menjadi tidak konsisten, dan sering kali menyebabkan frustrasi.


Saya percaya bahwa pada akhirnya, brand yang ingin menarik perhatian milenial perlu bergerak menuju omnichannel marketing yang lebih integratif. Namun, ini membutuhkan komitmen yang lebih besar, baik dalam hal teknologi maupun pemahaman mendalam tentang perilaku konsumen. Konsumen milenial menginginkan lebih dari sekadar akses ke berbagai saluran; mereka menginginkan pengalaman yang koheren dan relevan.


Namun, satu hal yang tidak bisa saya abaikan adalah kenyataan bahwa omnichannel juga datang dengan tantangan etis. Ketika data konsumen digunakan untuk menciptakan pengalaman yang lebih personal, privasi menjadi isu penting. Brand harus memastikan bahwa mereka menggunakan data secara bertanggung jawab, tanpa melanggar kepercayaan konsumen. Di sinilah perusahaan harus berhati-hati agar tidak terlihat terlalu "mengintai" perilaku konsumen, yang bisa berdampak negatif pada loyalitas mereka.


Saya teringat pada kutipan dari Brian Solis, seorang pakar pemasaran digital, yang pernah mengatakan: "The future of business is about creating meaningful and seamless experiences for your customers, no matter where they are." Bagi konsumen milenial di Indonesia, pengalaman yang mereka harapkan adalah yang terhubung, relevan, dan personal di semua saluran. Jadi, apakah brand Anda siap untuk memberikan pengalaman yang memenuhi ekspektasi ini, atau hanya sekadar menawarkan lebih banyak saluran tanpa keterhubungan?


------


Artikel ini merupakan salah satu bagian dari ekslusif Rubrik Begawan yaitu BerpikirTerbalik.


Penulis

Dianta Hasri N. Barus

Penulis merupakan praktisi, pemikir di bidang pemasaran. Selama 17 tahun terakhir telah membantu banyak organisasi dan entitas bisnis dalam mengembangkan kapasitas pemasaran mereka. Beliau telah menghasilkan dua buah buku di bidang pemasaran, yaitu: Digital Marketing Black Box: Konsep Dasar, Strategi dan Implementasi, dan 33 Strategi Marketing Terpenting Dekade Ini.



Komentar


DH Insights mengambil frase Mengubah Perspektif, Mengubah Masa Depan sebagai tagline dari brand kami. Kami percaya dengan hal tersebut, dan bersama Anda mari kita ciptakan dunia yang lebih baik. Dengan mengubah perspektif, kita dapat membuka pintu menuju solusi yang lebih baik dan berkelanjutan bagi masa depan

Mengubah Perspektif.

Mengubah Masa Depan

Happy Portrait.jpg
bottom of page