Mokopi: Strategi Marketing Jitu di Tengah Pertempuran Middle Class Segment
- Dianta Hasri

- 1 Okt 2024
- 2 menit membaca

Bon appétit!
Asia Pasific saat ini adalah salah satu pasar besar di dunia terkait volume bisnis di sektor Kafe/ resto. Asia Pasific diperkirakan memegang market share sebesar 23% dari global revenue di sektor tersebut di 2024, dengan market size sebesar USD 51 Milyar dan akan mengalami pertumbuhan CAGR yang signifikan hingga 2023 sebesar 7,8% (Cognitiva Market Research, 2024). Secara data di Indonesia, industri berkontribusi sebesar 41% dari total PDB ekonomi kreatif di tahun 2020 lalu atau sekitar 6,55% dari PDB nasional. Tidak heran pasar yang gurih tersebut mengundang begitu banyak brand kafe/ resto untuk masuk "menikmati" pasar Indonesia.
Secara segmentasi pasar, kita dapat melihat bahwa untuk sektor kafe/ resto di Indonesia sangat berkonsentrasi di segmen middle class, hal tersebut juga didorong oleh spending dan kontinuitas rate yang tinggi di segmen tersebut, lebih dari 50% demografi Indonesia saat ini di gerakkan oleh mereka. Belum lagi dilihat dari jumlah populasi Indonesia yang sudah hampir menyentuh 300 juta jiwa. Beberapa merek kafe yang terkenal yang menyasar segmen middle, seperti: Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Tomorro. Namun, yang ingin saya bahas adalah sebuah merek diluar "raksasa" tersebut, yaitu Mokopi.
Mokopi didirikan oleh seorang mahasiswa di Program Vokasi Universitas Katolik Parahyangan pada 2021 lalu, yaitu Alditya Bagas Dwi Purwanto (akrab dipanggil Aldit). Sejak kuliah di Program Vokasi, Aldit tertarik untuk mengembangkan kemampuan wirausahanya dan "bertepatan" dengan pandemi Covid-19 lalu, justru membuat dia dan saudaranya berani untuk membuka sebuah bisnis kafe berkonsep open space di Bandung. Tidak menyangka ternyata pertumbuhannnya sangat luar biasa, hingga artikel ini ditulis Mokopi telah memiliki 10 cabang yang tersebar di beberapa kota di Indonesia.
Pada saat berdiskusi dengannya, saya menyimpulkan terdapat empat strategi jitu yang dia lakukan untuk meningkatkan momentum pertumbuhan tersebut.
Market lebih memilih nongkrong di kafe dengan konsep open space

Hal ini didorong oleh Pandemi lalu yang membuat masyarakat merasa lebih aman dan nyaman saat ngumpul di luar ruangan, sehingga konsep open space yang dibuat oleh Mokopi menjadi unique selling propotition yang tepat
Variasi produk yang dalam
Mokopi memiliki variasi produk yang intensif, baik dari minuman dan makanan yang ditawarkan. Sehingga hal ini memberikan flexibilitas dalam menyerap keinginan pasar yang beragam
Strategi harga middle
Mokopi melakukan pendekatan pricing secara efektif di segmen middle, hal ini untuk mengakomodasi daya beli segmen middle yang tidak terlalu besar namun sering
Kolaborasi dalam ekspansi
Mokopi dalam setiap membuka cabang baru, menggunakan strategi kemitraan. Hal ini untuk membagi resiko dan flexibilitas
Setiap bulannya dari sepuluh cabang Mokopi, Aldit mengataka saat ini perusahaannya memiliki volume bisnis hingga 3-4 Milyar per bulannya. Dimana penjualan tertinggi saat ini masih dipegang oleh Jakarta dan Sukabumi.

Secara potensi pasar yang disasar oleh Mokopi memiliki pertumbuhan yang diperkirakan positif dan kuat selama 10 tahun kedepan, namun salah satu tantangan terbesar di sektor ini adalah business barrier yang tidak terlalu tinggi. Membuat begitu banyak pemain baru yang masuk ke industri ini setiap tahunnya. Inovasi dan strategi bisnis dalam mengontrol efisiensi akan menjadi kunci.
Sisi lain yang membuat saya kagum adalah, Mokopi dikembangkan oleh seorang mahasiswa yang mempraktekkan apa yang dia pelajari di kampus dan apa yang dia temui di lapangan. Pembelajaran holistik yang diperlukan oleh institusi pendidikan saat ini.






Komentar