Kompleksitas Warna Dalam Branding: Pergeseran Konsep Dan Implementasi Pemasaran Saat Ini
- Dianta Hasri

- 26 Okt 2024
- 4 menit membaca

Pada dasarnya, warna dalam branding (pemasaran) selalu memainkan peran besar dalam menarik perhatian konsumen dan menciptakan kesan yang mendalam. Dengan meningkatnya pemahaman psikologi warna dan penggunaan data, strategi penggunaan warna dalam pemasaran kini mengalami pergeseran signifikan. Dahulu, pilihan warna umumnya hanya mencerminkan identitas sederhana dari brand; sekarang, warna dianggap sebagai elemen kunci yang memengaruhi persepsi, kesan emosional, dan keterikatan konsumen. Di Indonesia, seiring dengan berkembangnya sektor industri kreatif, banyak brand lokal yang mulai memanfaatkan psikologi warna untuk menarik generasi muda yang lebih peka terhadap identitas visual.
Secara global, konsep penggunaan warna ini berkembang seiring perubahan tren desain dan preferensi masyarakat yang dinamis. Banyak perusahaan teknologi di Silicon Valley, misalnya, yang mengadopsi palet warna “calm tech” dengan nuansa pastel untuk memberikan kesan ramah dan mudah diakses. Di sisi lain, brand fashion di Eropa dan Amerika kerap menggunakan warna yang lebih tegas untuk mengekspresikan eksklusivitas dan status tinggi. Ini menunjukkan bahwa penggunaan warna bukan sekadar pilihan estetika, tetapi juga elemen strategi komunikasi yang perlu disesuaikan dengan identitas dan target audiens.
Pemahaman akan teori warna yang mendalam dan aplikasinya dalam branding mengantarkan kita pada pertanyaan tentang bagaimana warna dapat dipilih dan diterapkan dengan lebih strategis. Pemilihan warna utama atau sekunder pada suatu brand sangat terkait dengan psikologi target pasar. Misalnya, warna biru sering diasosiasikan dengan kepercayaan dan profesionalisme, sehingga banyak digunakan dalam sektor finansial atau teknologi. Sebaliknya, warna merah yang mencolok cenderung digunakan dalam industri makanan dan minuman karena mampu meningkatkan rasa lapar dan menggugah selera.
Namun, penggunaan warna dalam branding juga tidak tanpa kritik. Terlalu banyak brand yang mengikuti tren warna terkini tanpa mempertimbangkan relevansi dengan produk atau target pasarnya. Akibatnya, warna tersebut menjadi tidak autentik dan justru melemahkan identitas brand. Misalnya, warna yang terlalu trendi seperti neon atau warna pastel yang tidak sesuai produk bisa membuat brand terlihat tidak serius atau malah berusaha terlalu keras.
Di Indonesia, fenomena ini terlihat pada beberapa perusahaan rintisan (startup) yang mengikuti warna-warna “trendy” seperti hijau mint atau kuning pastel untuk memberikan kesan modern. Walau terlihat menarik, penggunaan warna ini kadang tidak memiliki korelasi dengan nilai atau pesan yang ingin disampaikan, sehingga melemahkan posisi brand di pasar. Pada akhirnya, warna bukan sekadar alat visual, tetapi juga alat komunikasi yang harus dioptimalkan.
Selain itu, di era digital, kita melihat bagaimana warna dalam branding mengalami perkembangan lebih lanjut melalui pemanfaatan teknologi dan data. Brand kini dapat melakukan eksperimen warna dengan lebih cepat melalui media sosial dan digital advertising, menguji warna apa yang paling menarik perhatian dan menghasilkan engagement tinggi. Dalam konteks ini, warna menjadi lebih dinamis; brand bisa menyesuaikan palet warna berdasarkan tren musiman atau preferensi demografi audiens, dengan tetap menjaga konsistensi elemen dasar warna yang menjadi identitas brand.

Salah satu contoh menarik adalah Coca-Cola, yang tetap mempertahankan warna merah ikoniknya, namun melakukan inovasi dalam nuansa dan intensitas warna pada berbagai kemasan produk. Strategi ini tidak hanya memperkuat identitas merek, tetapi juga memberi ruang untuk fleksibilitas tanpa kehilangan keaslian brand. Di sisi lain, Pepsi melakukan eksperimen dengan variasi warna biru dan perak untuk menyesuaikan tren, namun tetap mempertahankan identitas intinya.
Lalu, bagaimana brand bisa memilih warna yang sesuai dan menonjol di tengah persaingan yang semakin ketat? Pemahaman terhadap preferensi warna berdasarkan budaya dan demografi menjadi semakin penting. Di Indonesia, misalnya, warna-warna cerah yang merepresentasikan kebahagiaan dan keceriaan, seperti kuning atau hijau, sering kali mendapat respons positif dari kalangan muda. Namun, warna-warna tersebut perlu disesuaikan dengan nilai brand agar tidak tampak dipaksakan atau kurang autentik.
Ketika brand dapat menavigasi penggunaan warna yang sesuai, mereka menciptakan kesan yang lebih kuat dan membekas di benak konsumen. Kesesuaian ini menciptakan keterikatan emosional, menjadikan konsumen merasa bahwa brand tersebut “berbicara” pada mereka. Salah satu usulan yang saya ajukan adalah memanfaatkan tes A/B pada desain logo atau elemen grafis tertentu. Dengan demikian, brand dapat memperoleh data nyata tentang bagaimana warna memengaruhi konversi atau respons konsumen.
Tentu saja, penting untuk tidak sekadar mengikuti tren warna yang ada tanpa menyesuaikannya dengan brand identity dan target audiens. Konsistensi adalah kunci, karena dengan konsistensi, brand dapat lebih mudah dikenali di pasar. Namun, tidak ada salahnya bagi brand untuk melakukan inovasi warna pada momen tertentu untuk membangkitkan rasa segar dan relevan.
Banyak brand besar yang melakukan rebranding pada tahun-tahun tertentu dengan mempertimbangkan perubahan warna. Salah satu contoh yang menonjol adalah Instagram, yang mengubah warna logonya menjadi gradasi yang lebih berani dan dinamis. Walaupun sempat menimbulkan kontroversi, perubahan ini berhasil menarik perhatian generasi muda dan menjadikan Instagram tetap relevan di tengah persaingan media sosial yang ketat. Di samping itu, penting untuk menyadari bahwa warna dalam branding bukan hanya tentang estetika, tetapi juga tentang menciptakan makna. Ini sesuai dengan konsep “archetype” dalam psikologi branding, yang mana setiap warna mampu mencerminkan karakter tertentu. Warna hijau, misalnya, cenderung diasosiasikan dengan nature (alam) dan keseimbangan. Brand yang menggunakan warna hijau secara konsisten dapat dipersepsikan sebagai brand yang peduli pada lingkungan dan berkelanjutan.
Pemilihan warna dalam branding adalah proses yang kompleks, dan tidak ada formula pasti yang berlaku untuk semua brand. Namun, brand yang berhasil menggunakan warna dengan tepat adalah mereka yang memahami kekuatan komunikasi di balik setiap nuansa warna.
Psikolog warna Angela Wright pernah mengatakan bahwa warna adalah “bahasa yang tidak membutuhkan kata-kata,” menegaskan bahwa pemilihan warna yang tepat bisa memengaruhi respons konsumen tanpa perlu kata-kata tambahan.
Berpikir Terbalik
------
Artikel ini merupakan salah satu bagian dari ekslusif Rubrik Begawan yaitu BerpikirTerbalik.
Penulis
Dianta Hasri N. Barus
Penulis merupakan praktisi, pemikir di bidang pemasaran. Selama 17 tahun terakhir telah membantu banyak organisasi dan entitas bisnis dalam mengembangkan kapasitas pemasaran mereka. Beliau telah menghasilkan dua buah buku di bidang pemasaran, yaitu: Digital Marketing Black Box: Konsep Dasar, Strategi dan Implementasi, dan 33 Strategi Marketing Terpenting Dekade Ini.






Komentar